Sejenak Menjadi Seorang Hindia Belanda | Review Buku Teh dan Pengkhianat karya Iksaka Banu
Kalau kamu suka berandai-andai bagaimana situasi dan kondisi masa lampau, Teh dan Pengkhianat adalah jalan pintasnya.
Buku Teh dan Pengkhianat adalah kumpulan cerita pendek (cerpen) karya Iksaka Banu yang menceritakan potongan kehidupan pada kolonial Belanda. Cerpen-cerpen tersebut telah terbit di berbagai koran dan majalah lokal. Dibuka dengan Prakata yang menegaskan cerita - cerita dalam buku ini adalah fiksi, Iksaka Banu berhasil membuatku ‘si generasi muda’ menjadi tertarik dengan sejarah negeri ini.
Pengalaman Sekelebat Menjadi Hindia Belanda
Ada 13 cerita yang menggambarkan zaman kolonial mulai dari awal masuknya Belanda hingga Indonesia bertindak tegas mengusir penjajah. Perlu 10 hari bagiku untuk menghabiskan 180 halaman dengan rasa lega. Akibat terbiasa membaca cerita-cerita panjang dengan pesan moral yang dijabarkan secara jelas, aku memaksa otakku untuk berpikir keras ketika membaca cerita pendek.
Loh cuma gini aja? Pesannya apa? Gaada kelanjutannya nih? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu berputar setiap selesai membaca 1 cerpen.
Ramuan narasi Iksaka Banu berhasil menghipnotisku untuk merasa ikut hadir pada setiap cerita. Terkadang aku menjadi seorang pribumi, di lain cerita aku menjadi wanita Belanda yang terbelenngu bahkan aku ikut merasakan bagaimana gambaran dilema seorang penjajah. Penggunaan istilah dan sebutan-sebutan asing dengan tata bahasa yang tepat menjadi tidak terasa aneh walau dibaca oleh anak Gen Z sepertiku.
Berhubung seluruhnya adalah cerita pendek, ada beberapa cerita yang tidak bisa aku ambil hikmahnya. Salah satunya adalah Kisah Lazarus Tidak Ada Disini. Untuk yang lain aku dapat mengambil pesan-pesan tersirat yang perlu direnungkan dan aku pikirkan selama beberapa hari.
Gambaran Singkat Setiap Cerita
Berikut ini adalah ringkasan cerpen-cerpen yang termuat dalam buku Teh dan Pengkhianat :
Kalakaba = Kalakaba adalah nama salah seorang cendikiawan asal Banda yang menolak kehadiran Belanda. Bersama dengan orang kelas atas Banda, mereka melakukan kesepakatan dengan pihak Belanda, tetapi taktik tersebut dicurangi. Dan salah seorang Belanda yang menyampaikan kebenaran, diberi hukuman yang sama dengan orang-orang Banda.
Tegak Dunia = Menceritakan fanatisme bumi itu datar oleh kaum agamawan dan fakta sebenarnya yang dirasakan oleh para pelaut. Pesan : jangan jadi katak dalam tempurung, suatu ilmu harus dibuktikan dan tidak ditelan mentah-mentah.
Teh dan Pengkhianat = Perlawanan orang cina yang merasa tidak adil dengan pemabayaran upah yang tidak sesuai dengan perjanjian dan perlakuan semena-mena Sipir Belanda saat memberi hukuman. Perlawanan tersebut dapat dihentikan Orang Belanda dengan bantuan Seorang Pribumi yang dulunya melawan Belanda dan anak buah Pangeran Diponegoro. Pesan = jangan meremehkan orang lain.
Variola = Menceritakan sisi kemanusiaan para ilmuwan Belanda yang merasa bertanggung jawab untuk menghentikan persebaran wabah cacar dengan membuat vaksin tetapi ditentang oleh agamawan yang menggap wabah adalah takdir Tuhan dan tidak perlu dihentikan. Pesan = penafsiran kehendak Tuhan menjadi multitafsir tergantung dengan nilai dan pengalaman hidup setiap individu.
Sebutir Peluru Saja = Seorang pribumi yang tak terima dengan perlakuan zalim pribumi kaya dan membuat kisruh desa. Warga desa menutup mata dengan kelakuan zalim pribumi kaya dan meminta Polisi Belanda untuk membunuh pribumi tersebut. Polisi Belanda melakukannya bukan untuk keadilan tetapi menjaga nama baiknya.
Lazarus Tak Ada Disini = Menggambarkan detik-detik terakhir kehidupan veteran perang yang merasa dilema dengan kehidupan setelah mati. Pesan = jalani hidup sebaik-baiknya
Kutukan Lara Ireng = Opium menjadi pisau bermata dua baik bagi rakyat pribumi atau Belanda. Menurut orang Belanda, opium memberikan efek buruk bagi pribumi. Kinerja mereka dalam bekerja jadi menurun, yang dulunya sudah malas jadi semakin bermalas-malasan. Pihak Belanda merasa bertanggung jawab dengan sindikat - sindikat gelap pedagang opium dan memberantasnya. Tetapi pasukan pemberantas opium tersebut tidak hanya memberantasnya, mereka menangkap dan mengambil opium gelap tersebut untuk dijual kembali. Uang hasil penjualan tersebut diserahkan kepada Pemerintah Hindia Belanda.Domino kehadiran opium disebut kutukan lara ireng.
Di Atas Kereta Angin = menceritakan sistem kasta antara orang Belanda dan pribumi, seperti orang Belanda boleh memakai sepatu, orang pribumi tidak. Orang Belanda harus memakai pakaian Eropa dan orang pribumi hanya boleh mengenakan pakaian sesuai etnisnya. Orang belanda boleh menggunakan sepeda, orang pribumi tidak. Sistem kasta tersebut mengelompokkan manusia dan membuat orang Belanda jumawa. Salah seorang Belanda dengan pemikiran terbuka, mendobrak aturan tersebut dan memperbolehkan jongosnya untuk memakai celana, sepatu dan sepeda untuk memudahkan aktivitas jongos ketika mengantarkan surat untuk atasannya.
Belenggu Emas = Wanita Belanda yang aktivitasnya dibatasi oleh suami karena kerap menggunakan gaya pakaian wanita pribumi. Ia menepis persepsi tersebut dan memberanikan diri kabur untuk bertemu dengan wanita minang yang berani speak up for herself dan menjadi redaktur majalah wanita pertama di Hindia Belanda. Pesan = dahulu dan sekarang, musuh wanita cuma 1. persepsi pria yang tak mau kalah.
Nieke de Flinder = dilema seorang jurnalis untuk memuat berita anggota dewan Belanda yang memiliki citra “si paling menentang perbuatan yang dilarang kitab suci”, ternyata bermain dengan pelacur dan saling berkirim surat-surat vulgar. Pesan : bau busuk pasti terbongkar, dalam bentuk apapun menyimpan bangkainya
Tawanan = menggunakan sudut penceritaan seorang tentara Belanda yang ditawan oleh orang-orang TNI dan melakukan negosiasi dengan orang belanda yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Orang Belanda itu menggunakan pengalaman Belanda yang pernah dijajah Jerman untuk mengambil hati sang tawanan. It sounds like Palestine case.
Indonesia Memanggil = berita kemerdekaan Indonesia sampai terdengar di Australia. Semangat kemerdekaan Indonesia yang dibawa oleh Tahanan Indonesia berhasil mempengaruhi buruh kapal dan pelabuhan. Mereka memutuskan untuk mendukung kemerdekaan Indonesia dengan menolak melayani muatan senjata milik tentara Belanda. Salah seorang tentara Belanda yang ditugaskan untuk memata-matai kondisi lapangan, malah ikut terbawa semangat kemerdekaan Tahanan Indonesia dan mengundurkan diri dari kesatuannya.
Semua Sudah Selesai = seorang pemilik toko bakery dan kue dengan darah Belanda mengalami gejolak batin untuk menyelamatkan dirinya atau mempertahankan toko warisan ayahnya.
Buku ini adalah buku fiksi sejarah pertama yang aku baca sampai tuntas dan tidak ada yang aku lewatkan.
⭐️5/5 Sangat memuaskan!

Komentar
Posting Komentar