Aroma Cengkeh Pembuka Rahasia Masa Lalu | Review Buku Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga karya Erni Aladjai

 


Aku jatuh cinta dengan covernya!

Saat review buku ini berseliweran di twitter, aku langsung tertarik dengan warna covernya yang sangat menggambarkan nuansa alam. Setelah kalah war di beberapa jastip, aku berhasil mendapatkan buku ini dari menyelam di Shopee. Jadi kelihatan banget ya kalo aku anak Shopee🤭

Buku ini memiliki 152 halaman dengan 14 bab, 1 prolog dan 1 epilog. Berhubung aku bacanya mood-moodan, aku berhasil menyelesaikan buku ini dalam 20 hari hehehehe #JadiMaloe

Siapa yang berpikir jika buku ini akan menceritakan petualangan anak perempuan pada masa lampau? Saya! #TeamJudgeABookbyTheCover

Tapiii ternyataaaa eitsssss….. Sebelum aku spoiler lebih lanjut, aku selipkan dulu summary buku ini :

Haniyah mencintai pohon-pohon cengkih, karena tanaman ini bisa berbagi kehidupan dengan tanaman-tanaman lainnya.

"Tubuhmu harum cengkih," kata Ala.

"Saya dilahirkan dan mati di dalam hutan cengkih."

Di luar Rumah Teteruga, angin utara berembus dingin, kering, dan kencang, menggoyangkan ranting-ranting pohon gandaria dan matoa, menimbulkan suara gesekan di dinding rumah. Ala teringat kata-kata Ido, "Ada orang-orang yang tumbuh kejam dalam kehidupan ini, mereka tidak digelayuti rasa bersalah dan memiliki hasrat melahap yang tak pernah surut, mereka sungguh menakutkan ketimbang hantu dan hewan-hewan buas."

Gimana? Kamu sudah dapet gambaran buku ini? Atau punya gambaran yang sama seperti ekspektasiku diatas?

Jika tidak, selamat! Anda benarrr~

Don’t judge a book by the cover

Buku novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga menegaskan istilah “Don’t judge a book by the cover” karena buku ini menceritakan bagaimana gejolak kehidupan tahun 90-an di Timur Indonesia.

Haniyah dan Ala adalah ibu dan anak yang tinggal di sebuah rumah warisan bernama Rumah Teteruga. Mereka tinggal di Desa Kon yang terkenal dengan kebun cengkih, mayoritas penduduk Desa Kon adalah petani cengkih. Sehingga tiap kali waktu panen tiba, desa tersebut seperti sedang berpesta.

Sebagaimana desa pada umumnya, Desa Kon memiliki sosok yang selalu menjadi buah bibir. Dia adalah Naf Tikore, kakek tua yang tinggal menyendiri di tengah kebun cengkih peninggalan Belanda. Naf Tikore memiliki kisah yang kelam dan baik hati, tetapi tak banyak orang yang tahu—menurutku penduduk desa lebih ke tidak peduli dan ingin bergunjing aja sih.

Suatu malam, mata Ala yang juling dapat melihat kehadiran seorang anak kecil bernama Ido, Madika Ido. Dia meminta tolong pada Ala untuk mengabulkan keinginanya. Ala menurutinya dan berhasil menjadi lebih kenal dengan Naf Tikore.

My first impression about this book

Seperti ekspektasiku diatas, aku masih bisa memaklumi saat membaca prolog yang menceritakan kisah sedih dan sadis dengan nama tokoh yang berbeda dari judul. Lalu ketika masuk ke perkenalan tokoh utama, aku masih berpikir positif kalau cerita ini akan membahas serunya hidup di tahun 90-an. Yang mana sama sekali enggak😭😭😭

Ternyata kehidupan tahun 90-an berat juga ya. Aku sampai tanya ke orang tuaku, apakah pengalaman Ala di sekolah ini benar atau tidak dan ternyata benarrr dongggg! Pantes aja ya banyak Boomer yang adu nasib dengan gaya hidup Millenial dan Gen Z🫠

Tokoh cerita dalam novel ini ada banyak banget. Yaaah lebih dari 5 lah dan semuanya punya peran penting yang membangun situasi dan kondisi dalam novel ini. Saking ada banyak tokoh, aku gambar silsilah keluarganya! Kurang effort apa lagi coba.

Secara gaya bahasa dan penggambaran kondisi sosial-budaya, aku sangat setuju dengan catatan juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019. Dengan sudut pandang orang ketiga, Erni Aladjai berhasil bikin aku bisa membayangkan bagaimana cara bertutur, melakukan tradisi, bentuk kehidupan pedesaan dan situasi-kondisi masa lampau masyarakat di Indonesia Timur.

Sangat disayangkan pengembangan karakter yang terlihat dalam buku ini tidak digambarkan secara merata. Hanya Ala yang berhasil keluar dari kesedihannya. Padahal aku berharap Naf Tikore akan menjadi sosok yang berbeda diakhir cerita, tapi apa daya jika memang dia sudah nyaman dengan kebiasaan menyendiri.

Penilaianku untuk buku ini : ⭐️ 4,5/5

Ada beberapa kejadian dan karakter dalam novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga yang relate dengan kondisi saat ini. Seperti alasan Bibi Ati yang tidak mau menerima pinangan Paman Hairun, tingkah laku Bu Guru Hijima yang tidak mencerminkan karakter seorang guru, balas dendam bar-bar Para Istri Polisi kepada Si Wanita Hamil, sarkasme Bibi Gebe yang tidak mau leha-leha dan sifat zalim Tago Tikore.

Bonus quotes sarkas Bibi Gebe untuk kaum proletar seperti saya 🙃 :

Bibi tidak terhibur dengan senja, hujan, dan bau bunga-bunga, hanya orang kaya yang tidak pernah memikirkan harga makanan yang akan terhibur dengan hal-hal demikian

Sekali lagi, buat yang mau baca buku ini, ati ati ye ni buku tidak secantik covernya😂 Udah aku ingetin nih ya!😊🫵🏻


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peradaban Asing di Indonesia | Review Buku Banyu Biru karya Ayu Dewi

Sejenak Menjadi Seorang Hindia Belanda | Review Buku Teh dan Pengkhianat karya Iksaka Banu